Alasan Kebanyakan Recliner Ergonomis Justru Membuat Badan Cepat Pegal, No 3 Bikin Geram

sofa recliner ergonomis dengan posisi rebah penuh yang justru dapat membuat tubuh cepat pegal saat digunakan lama

Label ergonomis pada sofa recliner terdengar seperti jaminan mutlak.

Mulai dari menawarkan kenyamanan, memberikan dampak kesehatan secara langsung hingga ramah untuk berbagai kondisi tubuh.

Banyak orang membeli sofa recliner ergonomis dengan harapan bisa duduk dalam waktu lama tanpa harus merasakan pegal-pegal, bersantai tanpa nyeri di bagian punggung, bahkan merasa lebih rileks setelah seharian bekerja. Namun realitanya justru bertolak belakang.

Tidak sedikit recliner yang mengklaim ergonomis, tapi nyatanya malah membuat badan cepat pegal dan bahkan dampaknya lebih parah dibanding sofa biasa.

Sebenarnya, masalah utama yang muncul bukan terletak pada tubuh Anda, melainkan karena penyalahgunaan kata ergonomis.

Berikut alasan kenapa banyak sofa recliner ergonomis justru gagal menjalankan fungsinya.

1. Ergonomi Dipersempit Jadi Sekadar Sudut Sandaran

Kesalahan paling umum dalam desain recliner ergonomis adalah menyederhanakan kata ergonomi menjadi sudut untuk rebahan saja.

Selama sandaran bisa dimiringkan dan kaki bisa diangkat, produk langsung diberi label ergonomis.

Padahal ergonomi bukan tentang posisi akhir, melainkan proses dan keseimbangan tubuh selama berada di posisi tersebut.

Banyak recliner memberi sudut rebah yang terlalu agresif, membuat punggung bawah kehilangan dukungan secara  alami hingga memindahkan beban tubuh hanya ke satu titik (biasanya pinggang atau bahu).

Hasilnya tubuh memang terlihat santai, tapi otot bekerja diam-diam untuk menyesuaikan diri.

Pegal pun muncul secara perlahan tanpa Anda sadari.

2. Ergonomis Versi Desain, Bukan Versi Tubuh Manusia

Banyak recliner ergonomis dirancang berdasarkan proporsi visual semata, tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh yang sesungguhnya pada masing-masing penggunanya.

Tinggi sandaran, kedalaman dudukan, dan posisi sandaran kepala dibuat seragam seolah-olah semua tubuh manusia memiliki bentuk dan kondisi yang sama.

Faktanya panjang paha tiap orang berbeda, lengkung tulang belakang tidak identik dan posisi nyaman tiap tubuh itu jelas berbeda.

Ketika recliner memaksa hanya tersedia dalam satu standar ergonomi, maka kondisi tubuh yang tidak pas mau tidak mau harus menyesuaikan.

Penyesuaian inilah yang memicu ketegangan otot dan rasa pegal, terutama setelah duduk lama.

Recliner ergonomis seharusnya mengikuti tubuh, bukan memaksa tubuh mengikuti kondisi setiap furnitur.

3. Terlalu Banyak Fitur Pintar yang Justru Mengunci Tubuh (Ini yang Bikin Geram)

Ini bagian yang paling jarang dibahas dan paling menjengkelkan.

Banyak recliner ergonomis modern hanya dipenuhi dengan fitur posisi preset, sandaran kepala kaku, lumbar support yang terlalu menonjol bahkan mekanismenya mengunci pada sudut tertentu saja.

Alih-alih membantu, fitur-fitur ini sering membatasi gerak mikro tubuh.

Padahal tubuh manusia butuh gerakan kecil seperti sedikit menggeser posisi, mengubah sudut pinggang, atau meluruskan punggung tanpa sadar.

Saat recliner terlalu kaku, terlalu pintar dan terlalu memaksa untuk satu posisi ideal, maka tubuh akan kehilangan kebebasan alaminya.

Kondisi otot jadi cepat dan mudah lelah karena tidak diberi ruang untuk menyesuaikan diri.

Pegal pun mulai bermunculan, meski recliner terlihat canggih dan mahal.

Ironisnya semakin banyak fitur ergonomis pada recliner, justru semakin sedikit toleransi untuk kondisi tubuh pada masing-masing penggunanya.

4. Busa Empuk Sukses Mengubah Persepsi Ergonomi

Banyak orang mengira empuk sama dengan ergonomis, padahal persepsi seperti ini salah kaprah lho.

Busa yang terlalu empuk justru membuat tubuh menjadi tenggelam, secara perlahan tapi pasti bisa mengubah sudut pada bagian tulang belakang.

Awalnya nyaman, tapi setelah 30–60 menit tubuh mulai bekerja ekstra untuk menjaga posisinya.

Pegal muncul bukan karena posisi tubuh yang salah, tapi secara struktur tidak lagi menopang tubuh dengan stabil.

Perlu Anda pahami, bahwa recliner ergonomis yang baik justru terasa stabil, bukan cuma terasa empuk saja.

5. Ergonomi yang Baik Seharusnya Tidak Terasa

Ini poin yang jarang dibahas, ergonomi yang sejati tidak terasa seperti fitur.

Jika Anda merasa sadar sedang duduk ergonomis, merasa harus menyesuaikan posisi agar tetap nyaman dan sering berpindah karena ada yang terasa tidak pas, itu adalah tanda bahwa fungsi ergonomi tidak sedang bekerja.

Recliner ergonomis yang benar akan membuat tubuh diam secara alami.

Tidak ada rasa seperti sedang dipaksa, tidak ada titik tegang dan tidak ada hasrat untuk terus mengatur ulang posisi.

Banyak recliner ergonomis gagal bukan karena niatnya yang salah, tapi karena ergonomi hanya dipahami sebagai dukungan visual, fitur, dan sekadar istilah teknis saja serta mengesampingkan pengalaman nyata masing-masing kondisi tubuh para penggunanya.

Recliner yang benar-benar ergonomis mampu memberi kebebasan pada setiap gerakan kecil, menopang tubuh tanpa terasa mengatur dan terasa nyaman bukan hanya di awal saja melainkan dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi jika recliner ergonomis Anda justru membuat badan cepat pegal, jangan buru-buru menyalahkan kondisi tubuh.

Bisa jadi yang salah adalah cara dan sudut pandang ergonomi itu diterjemahkan.

Maka dari itu, penting bagi Anda mempertimbangkan produk recliner yang jelas-jelas sudah teruji, seperti salah satunya yang disediakan oleh Dekoruma.

Selain credenza, sofa recliner menjadi salah satu best product jebolan Dekoruma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *